ANTIKONVULSI (KIMIA MEDISINAL)


Antikonvulsi (antikejang)



            Kejang merupakan respon terhadap muatan listrik abnormal di dalam otak. Kejang-kejang merupakan ganggungan neurologis yang umum terjadi pada anak-anak. Biasa terjadi dengan frekuensi 4-6 kasus per 1000 anak dan sepertiganya mengalami kejang kambuhan (suatu keadaan yang disebut dengan epilepsy). Kejang juga diartikan sebagai pelepasan muatan oleh neuron-neuron otak yang mendadak dan tidak terkontrol yang menyebabkan perubahan pada fungsi otak. Kejang terjadi sewaktu neuron-neuron serebrum tertentu berada dalam keadaan hipereksitasi atau mudah mengalami depolarisasi (Gunawan,2007)

            Epilepsi adalah suatu kejang yang terjadi tanpa penyebab metabolic yang reversible. Epilepsi dapat bersifat primer dan sekunder. Epilepsi primer terjadi secara spontan biasanya pada anak-anak dan memiliki predisposisi genetic. Saat ini sedang dilakukan pemetaan beberapa gen yang berhubungan dengan epilepsi primer (Gunawan,2007).

            Antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi. Phenobarbital merupakan salah satu obat yang memiliki efek antikonvulsi spesifik yang berarti efek antikonvulsinya ridak berkaitan lagsung dengan efek hipnotiknya. Di Indonesia phenobarbital ternyata masih digunakan, walaupun diluar negri obat ini mulai banyak ditinggalkan. Fenitoin sampai saat ini masih merupakan obat utama antiepilepsi (Ganiswara,1995)

            Fenitoin merupakan salah satu obat golongan hydantoin dengan subtitusi difenil dengan struktur seperti dibawah ini :

                                                    


Sifat sedative lebih kecil dibandigkan senyawa subtitusi alkil pada posisi 5 dan juga memiliki efek farmakologi sebagai antiepileptic tetapi tidak menyebabkan depresi umum pada susunan saraf pusat (katzung,1995).

            Fenitoin dapat menurunkan aliran ion natrium yang tersisa maupun aliran ion yang mengalir selama aksi potensial atau depolarisasi karena proses kimia dan dapat juga dengan pemasukan ion kalsium selama depolarisasi berkurang secara bebas atau sebagai akibat berkurangnya kadar ion natrium intraseluler. Fenitoin juga dapat menunda aktifasi aliran ion kalium keluar dan juga fenitoin dapat mengubah konduktan , potesi membrane,  konsentrasi asam amino, neurotransmitter norepinefrin, asetil kolin dan amino butirat (GABA) (Wibowo dan Gofir,2001)







Permasalahan

1.    Bagaimana perbedaan mekanisme Terjadnya epilepsy primer dan sekunder

2.    Mengapa fenitoin dipilih sebagai obat antikonvulsi yang paling utama

3.    Bagaimana memilih antikonvulsi yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh seseorang









Daftar Pustaka



Gunawan,S.G. 2007. Farmakologi dan Terapi. UI Press, Jakarta.

Ganiswara,S. 1995. Farmakologi dan Terapi , Edisi IV. FKUI, Jakarta.

Katzung,B.G. 1995. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika, Jakarta.


Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no2 menurut saya Fenitoin dipilih karena memiliki daya kerja obat yang cepat, onset kerjanya lebih singkat dari obat lain dan diperlukan dosis pemeliharaan untuk memjaga konsentrasi di dalam plasma. Fenitoin memiliki konsentrasi terapeutik dalam darah berkisar antara 5-2 mikrogram/ml dengan konsentrasi maks dalam plasma 3-12jam dam diabsorpsi lambat serlth pemberian oral sebnyak 70-90%

    BalasHapus
  2. Wah, postingannya sangat menarik.
    Tapi saya mau bertanya, apa ada obat lain yang bisa digunakan selain fenitoin dalam mengobati kejang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya kak , menurut saya obat kejang selain fenitoin, ada phenobarbital,valproic acid, piridone , carbamazepin dan masih banyak lagi obat kejang lainnya

      Hapus
  3. Hallo nora...
    Saya akan mencoba menjawab permasalahan no. 3
    Memilih obat antikonvulsi dapat dilakukan dengan cara
    1. Pilihlah obat antikonvulsi yang memiliki aktivitas paling efektif
    2. pilihlah obat antikonvulsi dengan efek samping yang rendah
    3. Jika mempunyai riwayat alergi suatu bahan obat maka dilihat terlebih dahulu komposisi obat antikonvulsi yang di pilih

    BalasHapus
  4. Hai Nora. Saya mau mencoba menjawab pertanyaan nmr 1.
    1. Epilepsi primer (idiolatik), epilepsi ini terjadi karena adanya kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal. Pada epilepsi ini, kejang tidak berasal dari trauma melainkan kejang yang ditimbulkan disebabkan karena abnormalitas susunan sistem saraf pusat
    2. Epilepsi sekunder, epilepsi ini terjadi karena akibat dari adanya kelainan pada jaringan otak , yang disebabkan bawaan dari lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir ataupun pada masa perkembangan anak

    BalasHapus
  5. Nora saya akan menjawab no 3

    Memilih obat antikonvulsi dapat dilakukan dengan cara
    1. Pilihlah obat antikonvulsi yang memiliki aktivitas paling efektif
    2. pilihlah obat antikonvulsi dengan efek samping yang rendah
    3. Jika mempunyai riwayat alergi suatu bahan obat maka dilihat terlebih dahulu komposisi obat antikonvulsi yang di pilih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer