analgetik
Analgetik
Rasa sakit atau nyeri merupakan
pertanda ada bagian tubuh yang bermasalh, yang merupakan suaru gejala, yang
fungsinya adalah melindungi serta memberikan tanda bahaya tentang adanya
gangguan-gangguan didalam tubuh seperti peradangan (rematik,encok), infeksi
kuman atau kejang otot. Rasa nyeri timbul karena adanya rangsangan mekanis
ataupun kimiawi, yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan dan melepaskan
zat-zat tertentu yang disebut mediator (perantara) nyeri seperti bradykinin,
histamine, serotonin, dan prostaglandin (Afrianti,et al.,2014).
Analgetik adalah senyawa yang dapat
menekan fungsi sistem syaraf pusat secara selektif, digunakn untuk mengurangi
rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgetik bekerja dengan meningkatkan
nilai ambang persepsi rasa sakit. Menurut Gunawan (2007), adapun jenis
analgetik yaitu :
1. Analgetik opioid atau analgetik narkotika
Analgetik ini
merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan papever somniferum atau
senyawa sintetik. Analgetik ini digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai
hebat dan nyeri yang bersumber dari organ visceral. Penggunaan berulang dan
tidak sesuai aturan dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Semua
analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat tetapi potensi, onset dan
efek sampingnya berbeda- beda secara kuantitatif maupun kualitatif. Efek
samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi dan mengantuk. Dosis
yang besar dapat menyebabkan hipotensi serta depresi pernapasan. Berikut adalah
salah satu contoh dari analgetik ini yaitu :
-
Morfin
Morfin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak dipakai untuk
nyeri hebat walaupun menimbulkan mual dan muntah. Selain menghilangkan nyeri,
morfin dapat menimbulkan euphoria dan gangguan mental.
2. analgetik
non-narkotik (analgetik perifer)
Analgetik perifer (non-narkotik) , yang terdiri dari obat-obat yang
tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan obat analgetik
non-narkotik atau obat analgetik perifer cenderung mampu menghilangkan atau meringankan
rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga
efek menurunkan tingkat kesadaran. Berikut adalah salah satu contoh dari
analgetik ini adalah ;
-
Paracetamol
Paracetamol merupakan derivate para amino fenol. Di Indonesia penggunaan
parasetamol sebagai analgetik dan analpiretik, telah menggantikan penggunaan
salisilat. Sebagai analgetik parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama
karena dapat menimbulkan nefropati analgetik. Dalam sediaanya parasetamol sering
dikombinasikan dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa
perlu meningkatkan dosisnya.
Permasalahan
1. Bagaimana perbadaan mekanisme antara analgetik
narkotik dan analgetik non-narkotik
2. Bagaimana mekanisme morfin dalam meredakan nyeri
3. Mengapa parasetamol sering di kombinasikan dengan
kofein untuk meningkatkan efektinitasnya
Daftar
Pustaka
Afrianti,R., R.Yenti dan
D.Meustika. 2014. Uji Aktivitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica papaya L.) Pada Mencit putih Jantan Yang di Induksi Asam Asetat 1%. Jurnal
Sains Farmasi dan Klinis.01(01): 54-60.
Gunawan,S.G. 2007.
Farmakologi dan Terapi. UI press, Jakarta.




Assalamualaikum nora, pemaparan yang bagus, baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 :
BalasHapusa. Analgetik narkotik bekerja dengan adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor opioid spesifik pada sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euforia dan rasa mengantuk. Ada 4 macam reseptor opiod yaitu reseptor µ, ð, dan NOP ( Nociception/Orphanin FQ reseptor) yang semuanya termasuk dalam kelompok GPCR (G Protein-Coupled Receptor)
b. Analgetik non narkotik menimbulkan efek analgetik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalisis biosintesis prostaglandin, seperti sikloogsigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit seperti bradikinin, dll yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.
Hai nora... Saya akan mencoba jawab permasalahan no.1
BalasHapusPerbedaan terletak pada tempat kerjanya. Kalau analgetik narkotik bekerja pada SSP (Sistem Saraf Pusat) sedangkan analgetik nonnarkotik bekerja pada sistem saraf perifer
assalamua'laikum nora, nurul mencoba menjawab ya no.2 Mekanisme kerja morfin secara molekuler masih belum sepenuhnya dipahami. Aktivasi reseptor opioid diperkirakan mencetuskan coupling/penggabungan protein G. Hal ini akan menyebabkan inhibisi aktivitas adenylyl cyclase, penutupan kanal ion Ca2+, pembukaan kanal ion K+, serta aktivasi phosphokinase C (PKC) dan phospholipase C-β (PLCβ). Menutupnya kanal ion Ca2+ akan menghambat pelepasan neurotransmiter oleh neuron presinaps. Sedangkan pembukaan kanal ion K+ akan memicu hiperpolarisasi yang menghambat neuron postsinaps. Mekanisme inilah yang diperkirakan menyebabkan efek morfin, termasuk efek analgesik
BalasHapusHai nora, disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1 menurut saya, perbedaan mekanisme nya yaitu pada golongan narkotik bekerja pada sistem saraf pusat, jadi kerjanya mempengaruhi sistem saraf pusat, sedangkan non narkotik belerja pada sistem saraf perifer.
BalasHapussaya akan menjawab no 1 yakni perbedaannya pada analgetik narkotik yakni bekerja pada sistem saraf pusat sedangkan pada non narkotik pada sistem saraf tepi
BalasHapus